asthenozoospermia

Berapa lama penyembuhan Asthenozoospermia ? ini merupakan pertanyaan yang menarik untuk kita bahas. Sebelum ke pembahasaan berapa lama waktu yang di perlukan dalam penyembuhan asthenozoospermia, ada baiknya Anda mengetahui apa saja kriteria kesehatan sperma yang menjadi faktor penting dalam proses terjadinya kehamilan.

Ada enam kriteria utama untuk menggambarkan kondisi sperma yang sehat. Diantaranya,

  1. Volume,
  2. motilitas,
  3. morfologi,
  4. kemampuan untuk melewati lendir serviks dan berenang menuju sel telur,
  5. reaksi akrosom,
  6. zona pellucida binding dan nuclear decondensation.

Sperma juga perlu memiliki jumlah kromosom yang sehat untuk mendapatkan kehamilan yang sukses. Kerusakan pada salah satu kriteria diatas dapat menyebabkan infertilitas atau ketidaksuburan pria.

Seberapa besar pengaruh kualitas pergerakan sperma terhadap kehamilan ?


Banyak pasangan yang tidak memiliki anak tidak dapat hamil karena masalah kesuburan pria dan untuk kasus pada pria semuanya biasanya berhubungan dengan masalah sperma. Kualitas sperma secara keseluruhan harus cukup baik agar kehamilan alami bisa dan mungkin terjadi, dengan catatan kondisi pihak perempuan tidak memiliki masalah reproduksi apa pun. Jika seorang pria memiliki jumlah sperma yang rendah, kemungkinan kehamilan juga menjadi rendah, begitupun jika seseorang memiliki morfologi abnormal maka sperma tidak akan dapat menembus sel telur untuk membuahi, dan jika jumlah dan morfologinya normal, tetapi motilitasnya rendah maka sperma tidak akan membuahi sel telur, sebab tidak dapat berenang mencapai telur pada waktunya (mati di jalan) sehingga menghambat terjadinya kehamilan.

Agar kehamilan terjadi, semuanya harus bekerja dalam sinkronisasi antara kesuburan di kedua belah pihak yaitu suami dan istri, mulai dari siklus menstruasi wanita hingga ovulasi dan keseimbangan hormonal, diikuti oleh waktu hubungan dan kualitas sperma harus baik sehingga dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan. Setelah ovulasi, sel telur tetap di tuba fallopi selama 12-24 jam (1 hari) menunggu sperma untuk membuahinya. Sperma harus cukup aktif untuk dapat berenang dari vagina, kemudian melewati serviks, menuju rahim dan berenang ke tuba fallopi untuk menyuburkan sel telur sebelum disintegrasikan. Tidak masalah bagaimana pasangan mengatur waktu hubungan mereka, atau berapa jumlah sperma pria, jika sperma tidak dapat melakukan perjalanan menuju sel telur, kehamilan tidak akan tercapai.

Pada kondisi kesimpulan dari hasil analisa sperma dengan hasil Asthenozoospermia, dapat ditarik kesimpulan ada ketidak suburan dengan rendahnya motilitas (pergerakan) sperma. Kasus rendahnya atau lambatnya pergerakan sperma salah satu faktor penting yang perlu diperbaiki. Sebab, pergerakan sperma yang lemah berarti ada beberapa kriteria dari enam faktor pada paragraf awal diatas yang tidak terpenuhi.

Faktor-faktor tersebut adalah :

Motilitas. Motilitas atau pergerakan sperma cepat berperan penting dalam mampu atau tidaknya sperma untuk bisa berenang hingga bertemu sel telur. Contoh kasus : Pasien dengan hasil motilitas sperma progresive (PR) atau Gerak linier cepat atau gerak lurus cepat atau motilitas excellent 5% berarti, peluang sperma yang bisa berenang sampai bertemu sel telur hanya ada 5%. jika di analogikan maka peluang terjadinya pembuahan atau kehamilan alami tidak lebih dari 5%.

berapa lama penyembuhan asthenozoospermia

Kemampuan sperma untuk melewati lendir serviks. Faktor kedua yang tidak terpenuhi dari enam kriteria diatas adalah kemampuan untuk melewati lendir serviks. Jika sperma yang bergerak lurus cepat jumlahnya hanya sedikit maka bisa dianalogikan bahwa sperma yang mampu berenang melewati lendir serviks juga sedikit. Jika sperma yang bergerak lurus cepat 0% maka, kemungkinan besar tidak ada sperma yang mampu berenang melewati lendir serviks untuk masuk ke dalam rahim. Kemampuan sperma bisa melewati lendir serviks ini juga ditentukan oleh kekuatan hidup sperma atau Vitality atau Viabilitas sperma

berapa lama penyembuhan asthenozoospermia

Berapa lama penyembuhan Asthenozoospermia ?


Pertanyaan terkait berapa lama penyembuhan asthenozoospermia ini pasti tidak akan 100% mendapatkan jawaban yang akurat. Sebab kondisi tubuh setiap individu berbeda-beda. Cepat atau lamanya pengobatan Asthenozoospermia bisa dilihat dari beberapa faktor, seperti : usia pasien, tingkat stress, pola tidur, berat badan, tingkat keparahan dan tentu saja penyebab dari Asthenozoospermia itu sendiri. Anda tak perlu khawatir untuk tidak mendapat jawaban nya disini, sebab kami akan mencoba menjelaskan sedikit terperinci terkait faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lammanya pengobatan.

(1) Faktor Usia : Pengaruh usia Anda dengan  Sperma


Pria yang lebih muda dari 40 tahun memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan keturunan daripada mereka yang berusia lebih dari 40 tahun. Kualitas sperma yang dihasilkan pria menurun saat mereka semakin tua. Kebanyakan pria menghasilkan jutaan sperma baru setiap hari, tetapi pria yang lebih tua dari 40 tahun memiliki sperma yang lebih sedikit daripada pria dengan usia dibawah 40 tahun. Jumlah air mani (cairan yang mengandung sperma) dan motilitas sperma (kemampuan untuk bergerak menuju sel telur) terus menurun antara usia 20 sampai 80 tahun.

semakin Anda bertambah usia kuantitas dan kuailitas sperma akan semakin menurun. Maka untuk proses pengobatan pun berbanding lurus, semakin pasien usia lebih dari 40 tahan maka proses pengobatan akan semakin lama. Dari pengalaman kami sejak tahun 2013 dalam menangani ribuan kasus pasien infertilitas pria dengan rendahnya motiitas sperma, untuk usia pasien 25 tahun s.d 35 tahun  rata rata membutuhkan waktu pengobatan 1 s.d 2 bulan. Sedangkan usia 36 tahun s.d 45 tahun rata rata membutuhkan waktu 2-3 bulan pengobatan. Sedangkan pasien dengan usia diatas 45 tahun bisa lebih dari 3 bulan.

 

(2) Faktor Stress : Pengaruh stres emosional pada kualitas sperma


Pada jurnal NCBI yang ditulis Indian J Res. 2008 Sep di Departemen Bedah, Bagian Biologi, Pusat Interdepartmental untuk Penelitian & Terapi Infertilitas Pria, Universitas Siena, Italia. menyebutkan Stres emosional memberikan pengaruh buruk pada kesuburan. Dalam penelitian ini pasien laki-laki dengan infertilitas idiopatik dipilih setelah evaluasi stres psikologis untuk mengevaluasi efek positif dari terapi stres pada kualitas air mani (sperma) mereka.

Metode penelitian : Sebanyak 20 pasien dengan kasus infertilitas yang terdaftar dalam penelitian dan secara acak dibagi dalam dua kelompok. Ejakulasi diperiksa oleh cahaya dan mikroskop elektron transmisi (TEM). Segregasi Meiotik juga amati oleh fluoresensi in situ hibridisasi. Sepuluh pasien diobati dengan terapi Conveyer of Modulating Radiance (CRM) dan karakteristik sperma dan segregasi meiosis dievaluasi lagi tiga bulan pada akhir pengobatan.

Hasil penelitian : Data TEM menunjukkan bahwa, di antara patologi sperma, nekrosis dan apoptosis lebih tinggi dan jumlah sperma “sehat” secara signifikan berkurang pada kedua kelompok pria yang stres dibandingkan dengan nilai referensi. Jumlah sperma “sehat” secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang dirawat setelah terapi, menunjukkan pemulihan kualitas sperma, meskipun tidak ada penurunan signifikan dalam patologi sperma yang diamati. Analisis fluoresensi in situ hibridisasi menunjukkan bahwa frekuensi rata-rata kromosom seks disomies dan diploidies menurun secara signifikan setelah terapi stres.

(3) Faktor Tidur : Tidur kurang dari 7-8 jam per hari mengurangi motilitas sperma


Pada jurnal penelitian NCBI dengan penelitian pada 981 pria yang di akukan dibeberapa tempat terpisah yaitu di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Rumah Sakit Berafiliasi Kedua Harbin, Universitas Kedokteran Harbin, Harbin, Heilongjiang, PR China, di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Rumah Sakit Pusat Palang Merah Harbin, Harbin, Heilongjiang, PR China di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Rumah Sakit Pusat Chaoyang, Chaoyang, Heilongjiang, PR China, di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Universitas Kedokteran Harbin, Harbin, Heilongjiang, PR China yang jurnal tersebut dipublish oleh  Mei-Mei Liu dengan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki efek dari durasi tidur dan waktu tidur pada kesehatan sperma, dan mekanisme yang mungkin terlibat.

Bahan / Metode : Kami secara acak membagi 981 pria Cina yang sehat ke dalam kelompok sesuai dengan waktu tidur yang ditetapkan penelitian (A = 8-10 PM, B = setelah 10 PM, dan C = setelah tengah malam) dan durasi tidur: kelompok 1 = <6,0 jam (pendek), kelompok 2 = 7.0–8.0 jam (rata-rata), dan grup 3 => 9.0 jam (panjang). Morfologi sperma, jumlah, kelangsungan hidup, dan motilitas diperiksa sesuai dengan pola tidur. Produksi antibodi antisperm (ASA) dalam air mani pun ditentukan.

Hasil : Jumlah sperma dan tingkat kelangsungan hidup sperma (viabilitas) lebih rendah dalam tidur pendek dibandingkan dengan orang lain dalam setiap kelompok (semua P <0,01). Jumlah yang lebih rendah dan tingkat kelangsungan hidup diamati pada waktu tidur yang berbeda, dengan perbedaan signifikan yang ditemukan antara pengukuran C1 vs A1 dan C2 vs A2 atau B2 (semua P <0,05 atau 0,01). Motilitas semen lebih rendah dalam tidur pendek dibandingkan dengan rata-rata dan panjang tidur (semua P <0,01). Ada perbedaan dalam hasil yang berhubungan dengan waktu tidur antara pengukuran C1 vs A1 atau B1 (P <0,05 atau 0,01). Selain itu, proporsi populasi untuk ASA-positif berpartisipasi dan kejadian populasi dinyatakan ASA jelas meningkat pada tidur pendek dibandingkan dengan orang lain dalam setiap kelompok (semua P <0,05).

Kesimpulan : Durasi tidur yang pendek dan panjang serta waktu tidur yang terlambat dikaitkan dengan gangguan kesehatan sperma dalam kelompok studi, sebagian melalui peningkatan produksi ASA dalam air mani. (referensi sumber ; https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5402839/)

Kita bisa menarik kesimpulan dari penelitian diatas bahwa peningkatan kadar antibodi antisperm (ASA) dalam air mani berkolerasi dengan Aglutinasi positif pada sperma yang jelas mengganggu pergerakan sperma sebab sperma saling menempel. Dengan demikian maka proses pengobatan Asthenozoosermia akan sedikit lambat dan agar pengobatan bisa cepat dan maksimal, selain pemberian suplementasi untuk meningkatkan motilitas sperma, pasien dengan poa tidur yang pendek dan sering begadang, selalu kami backup dengan herbal anti-aglutinan agar pengobatan hanya cukup membutuhkan waktu 30 hari.

 (4) Faktor Berat Badan : Obesitas berpengaruh terhadap motilitas sperma


Sebagian besar penelitian tentang dampak obesitas berfokus pada aksis hipotalamus-pituitari-gonad (HPG) dan perubahan endokrin di mana kita melihat berbagai perubahan dalam tingkat dan frekuensi denyut nadi gonadotropin (terutama LH); penurunan kadar globulin hormone-binding globulin (SHBG), testosteron dan inhibin B; dan peningkatan kadar estradiol. Aggerholm et al (2008) menunjukkan bahwa kadar testosteron serum 25-32% lebih rendah pada pria obesitas dibandingkan pada pria dengan berat badan normal, sedangkan konsentrasi estrogen 6% lebih tinggi. Jaringan adiposa adalah situs penting untuk produksi hormon; Oleh karena itu, peningkatan jumlah lemak tubuh menyebabkan regulasi hormon abnormal fungsi testis (Teerds et al, 2011).

Lemak visceral yang berlebihan, lebih dari lemak subkutan, berhubungan positif dengan peningkatan kadar estradiol karena peningkatan aktivitas aromatase, yang diproduksi oleh jaringan adiposa dan mengubah testosteron menjadi estradiol, sehingga menderegulasi sumbu HPG (Gautier et al, 2013). Rendahnya tingkat inhibin B dikaitkan dengan disfungsi tubulus seminiferus (Shukla et al, 2014). Tingkat LH, SHBG dan, dengan demikian, testosteron juga diketahui dipengaruhi oleh hiperinsulinemia dan hiperglikemia, dengan peningkatan kadar insulin yang menurunkan kadar SHBG dan LH (Palmer et al, 2012).

Qin et al (2007) menetapkan bahwa hubungan antara BMI dan kualitas air mani ditemukan menjadi signifikan secara statistik bahkan setelah penyesuaian untuk tingkat hormon reproduksi, menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Mekanisme lain yang dapat berkontribusi terhadap efek obesitas pada kesuburan pria termasuk peningkatan pelepasan adipokin dari jaringan adiposa; masalah fisik lainnya, seperti sleep apnea, yang dapat berdampak negatif pada tingkat testosteron serum pagi (Luboshitzky et al, 2005); dan peningkatan suhu skrotum, karena peningkatan penumpukan lemak di paha atas dan perut, yang mengganggu spermatogenesis (Jung dan Schuppe, 2007). – Sumber jurnal : http://www.britishjournalofobesity.co.uk/journal/2015-1-3-100

Dari penelitian diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa obesitas dapat membuat peningkatan suhu skrotum, karena peningkatan penumpukan lemak di paha atas dan perut, yang mengganggu spermatogenesis. Peningkatan suhu skrotum juga bertanggung jawab terhadap meningkatnya jumlah sperma yang tidak bergerak atau immotile sehingga viabilitas sperma hidup menjadi rendah.JJadi obesitas mempengaruhi cepat atau lambatnya pengobatan, serta untuk kasus pasien obesitas dalam pengobatan Asthenozoospermia dibutuhkan dosis suplementasi yang lebih tinggi dibanding pria dengan berat badan normal.

Untuk lama proses pengobatan sebab faktor tingkat keparahan dan faktor penyebab dari Asthenozoospermia akan kami lanjutkan pembahasan pada artikel selanjutnya.

KONSULTASI

klinik holistik elif medika

Yudha Nugraha, Akp, C. Herb.

Hubungi kami untuk melakukan konsultasi masalah Reproduksi & Fertilitas Pria
author

TENTANG PENULIS

Lulu Nurjannah, Amd.Keb, Akp, C.Herb adalah Bidan, Akupunturis, Herbalis, Penulis buku dan praktisi kesehatan holistik. Legalitas usaha, BRAND IMAGE, dan sertifikat keahlian dapat dilihat dihalaman TENTANG KAMI